dunia ini ibarat sebuah buku dan siapa yang tak pernah melakukan perjalanan, ibarat hanya membaca satu halaman seumur hidupnya." Meskipun terbuang dan terkoyak bahkan tersobek. Mimpi itu tersimpan sebagai harta berharga dalam hatiku. Aku make kerudung Tiara soalnya kerudungku basah disiram air. Ini foto diambil sebelum aku dapet
MarshalsPaperbacks, Kerudung yang Terkoyak, Novel Terjemahan. Martha Mary McGray, CSJ, 60 Cara Pengembangan Diri, Buku Umum. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Buku Umum. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Harmoni di Mata Kaum Muda, Kumpulan Esai Sosial Budaya 2013.
Padamasa yang sama, Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, mengalami dua hal yang bertolak belakang. Memoles wajahku dan mengenakan kerudung yang dibelikan William untukku. Dengan sigap aku memasukkan undangan itu dan beberapa keperluanku. hingga mobilku menabrak sebuah truk yang melintas di depanku. Aku terasa terkoyak
KerudungYang Terkoyak . Kesaksian Hamran Ambrie . Kesaksian Bassam . Islam Sejati . Supremasi Terang Atas Kuasa Kegelapan - Oleh Alhajji Aliyu . Download 250 Buku Islam Bermutu 6 tahun yang lalu Son of Hamas. Behold the face of
Ikutilahkajian-kajian yang ada, yang tidak melenceng dari Quran dan sunnah. Salah satunya seperti acara hari ini yakni 'Bincang Syariah Muslimah' yang di adakan oleh Majelis Ummahaat Kab.Luwu hari ini. Wallahu A'lam bishawab. Semangat Menuntut Ilmu. di Desember 23, 2017 Tidak ada komentar:
BeliTHE TORN VEIL KERUDUNG YANG TERKOYAK. Harga Murah di Lapak ADAM ARDELIA. Pengiriman cepat Pembayaran 100% aman. Belanja Sekarang Juga Hanya di Bukalapak.
r12M. 0% found this document useful 0 votes471 views6 pagesDescriptionSebuah kesaksian dari seorang TitleKERUDUNG YG DIKOYAKKANCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsPDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes471 views6 pagesKerudung Yg DikoyakkanOriginal TitleKERUDUNG YG DIKOYAKKANJump to Page You are on page 1of 6 You're Reading a Free Preview Pages 4 to 5 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
0% found this document useful 0 votes4 views8 pagesDescriptionKerudung Yang TerkoyakCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes4 views8 pagesKerudung Yang Terkoyak Kerudung YangTerkoyak KESAKSIAN GUSHLAN ESTER Gulshan Esther lahir dengan nama asli Gulshan Fatima Shah di tahun 1952 darikeluarga Islam Shiite Pakistan yang saleh dan kaya. Dia berasal dari garisketurunan Sayed, yang merupakan keturunan langsung dari Fatima, anakMuhammad. Garis keturunan ini dipercaya sebagai anugerah untuk masuk akses masuk surga ini bisa batal andaikata orang itu melakukan dosa besar seperti bunuh diri. Pada usia enam bulan, Gulshan menderita penyakit tipus, dansetelah itu, polio, yang mengakibatkannya lumpuh berat. Bagian kiri tubuhnyalumpuh, dengan kedua kaki dan tangan menggantung dan tidak pada masa kecilnya, ia melihat dengan iri anak2 lain yang bermain,loncat, dll, menyadari bahwa ia tidak akan bisa melakukan hal itu untuk selamanya. Ayah Golshen adalah pemimpin umat Muslim yang sangat dihormati. Dia menyekolahkanGulshan in di sekolah Islam sejak usia muda. Gulshan tidak pernah lalai sembahyang lima kalisehari dan pada usia 7 tahun ia mulai mengenakan pakaian wanita Muslim. Ia merinding melihatcara berpakaian wanita Barat yang tidak menutupi kepala dan kaki mereka. Meskipun ia anak paling kecil dari lima bersaudara, ayah Gulshan selalu memberikan perhatiankhusus untuknya karena kelumpuhan fisiknya. Dengan tidak mengecilkan rasa cinta padaanaknya, ayah Gulshan sebenarnya memberikan perhatian khusus ini juga demi menghormatikeinginan almarhum ibu Gulshan yang memintanya untuk tidak menikah lagi diperbolehkandalam Qur'an untuk merawat Gulshan. Ia dengan senang hati menerima dan melakukanpermintaan ibu Gulshan dengan sekuat tenaga sampai akhir hayatnya. Ayah Gulshan selalu berharap ia bisa menemukan obat yang bisa menyembuhkan anakperempuannya. Tapi pencariannya di Pakistan tidak menghasilkan apapun. Karena putus asa,pada tahun 1966, ia membawa anaknya ke Inggris dengan keyakinan bahwa dokter2 Inggrismampu menyembuhkan Gulshan. Begitu besar rasa percayanya sehingga dia sudahmerencanakan perjalanan ke Mekah dan Medinah untuk menyatakan terima kasih kepada Allahkarena telah menyembuhkan anaknya. Rasa percayanya yang besar itu kemudian sirna. Pada pemeriksaan oleh dokter di kamar hoteldi London, dokter menyatakan bahwa Gulshan tidak punya harapan untuk bisa mengingat kejadian itu lagi di kemudian hari dan kala itu dia mendengar dokter berkatapada ayahnya,"Tiada obat bagi putrimu, yang ada hanya doa." Waktu itu Gulshan heran bahwaorang kafir bisa berkata dikatakan oleh orang kafir atau bukan, ayah Gulshan ternyata percaya akan hal itu. Dialalu tetap dengan rencananya melakukan ibadah haji di Mekah, bukan untuk berterimakasihpada Tuhan seperti rencana semula, tapi untuk melakukan usaha penyembuhan usaha manusia sudah dicoba dan gagal. Sekarang waktu untuk ucapan dia sendiri"mengetuk pintu surga." Segera Gulshan, ayahnya, dan kedua pembantunya pergi ke Mekah. Mereka diterima di Jeddaholeh seorang Sheikh, kawan ayah Gulshan dan pemilik tanah yang kaya raya. Mereka membuatrencana matang untuk menunaikan ibadah haji. Dua domba kurban dipesan untuk setiap orangagar doa mereka diterima. Gulshan duduk di atas kursi roda dan didorong menuju perkemahan haji. Lalu Gulshandiletakkan di atas usungan kayu dan diangkat oleh empat orang laki mengelilingi Ka'abah. Gulshan bahkan diizinkan mencium batu hitam itu, dengan sangat yakin bakal sembuhkarenanya. Setelah ternyata Gulshan tidak sembuh jua, dia lalu dimandikan dengan air zam-zam, yangterkenal sebagai air suci yang bisa menyembuhkan, dan dia juga lalu mengunjungi makamMuhammad di Medina. Dia bahkan diberi izin khusus untuk berdoa di tempat itu mintadisembuhkan. Karena belum juga sembuh, mereka lalu mengunjungi berbagai tempat suci Islamdi Yerusalem dan Irak, tapi hasilnya tetap nihil. Setelah melakukan perjalanan selama sebulan, mereka lalu pulang kembali ke Pakistan denganrasa kecewa berat. Jika penunaian ibadah haji merupakan 'jalan ke surga' seperti yang ayahGulshan kira, maka pintu surganya ternyata tetap tidak dibukakan. Celakanya, kelumpuhan Gulshan semakin meningkat. Bukan hanya tidak ada obat, tapi dia jugasekarang seperti yang kemudian hari ia tulis "lumpuh secara jiwa dan raga" dengan arti rasaputus asa benar2 sudah meliputinya. Segala usaha pertolongan dari manusia dan Illahi telahdicoba dan hasilnya nol. Seluruh keluarga Sayed berduka dan dengan sia2 berusaha membangkitkan semangatGulshan. Gulshan dengan setia tetap melakukan ibadahnya, tetapi semakin merasa putus asa. Lalu, dua tahun setelah perjalanan ke tanah suci, ayah Gulshan tiba2 meninggal karena radangparu2. Kejadian ini terlalu berat buat Gulshan dan beberapa kali dia berpikir serius untuk bunuhdiri. Hanya berpikir untuk bunuh diri atau benar2 berbuat saja bisa2 membuat Gulshan tidakbisa masuk surga untuk bertemu dengan ayahnya nanti. Meskipun ingin bunuh diri sekalipun, ia juga tidak bisa melakukannya sebab tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan untukmenggantung diri, mengambil pisau, atau meminum racun. Gulshan berdoa kepada Allah untukmengambil nyawanya. Dia tidak mengerti mengapa orang sebaik ayahnya yang bergunamelayani masyarakat diambil nyawanya oleh Tuhan, sedangkan anaknya yang lumpuh dantidak bisa apa2 dibiarkan hidup. Kenapa tidak dia saja yang mati? Benar2 tidak adil! Sejak masa kecilnya, Gulshan melakukan sembahyang pertama jam 3 pagi setiap hari. Tapisetelah kematian ayahnya, dia patah semangat dan merasa sukar menjalani kebiasaansembahyangnya. Beberapa saat, dia hanya berbaring saja, sambil mendengarkan suarapelayannya yang menyiapkan kegiatan hari itu. Gulshan dipenuhi perasaan bahwakeberadaannya di dunia tidak ada gunanya. Untuk pertamakali dalam hidupnya, Gulshan tidak mengucapkan ayat2 sembahyang yangseharusnya dalam bahasa Arab. Bahkan karena rasa putus asanya, dia hanya menangis padaTuhan di dalam bahasanya sendiri Urdu dan berkata,"Saya mau mati saja, tidak mau hiduplebih lama lagi." Pada saat itu, dia mengalami perasaan yang sama sekali baru. Meskipun tidak bisa dijelaskan,sepertinya ia merasa dalam sanubarinya bahwa ada keyakinan pasti tangisannya didengar. Diasangat merasakannya. Seseorang mendengar tangisnya. Dengan pengetahuan dan keyakinanini, muncul rasa berani dalam dirinya untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak pernahterlintas di benaknya. Dia seakan sadar bahwa yang mendengarnya adalah Tuhan, danGulshan sendiri berbicara sepertinya Dialah yang memegang kendali hidupnya. Dengan cara yang sangat tidak Islami dalam mengahadapi Tuhan, Gulshan menantang Diadengan pertanyaan,"Dosa apa yang aku lakukan sehingga Engkau membuatku sesengsara ini?Sejenak setelah aku lahir, Kau ambil ibuku. Lalu aku lumpuh. Sekarang Kau ambil padaku, mengapa Kau hukum aku seperti ini?" Setelah ledakan pertanyaan ini, sunyi sejenak. Lalu terdengar suara lembut,"Aku tidak akanmembiarkanmu mati. Aku akan tetap membuatmu hidup." Di kemudian hari Gulshan menerangkan bahwa suaran itu sangat jelas terdengar, meskipun diatidak bisa menjelaskan suara itu seperti apa. Dia mengumpakan suara seperti "hembusanudara" yang menembus melewatinya, tapi itu adalah komunikasi yang jelas sehingga dia jugabisa menerangkan bahwa suara itu berbahasa Urdu. Pesan suara itu tidak menyenangkan hati Gulshan. Dia tidak ingin mendengar Tuhanmembiarkannya hidup. Ia ingin Tuhan mengambil nyawanya. Lalu ia berkata padaNya, "Apagunanya membiarkanku hidup? Saya lumpuh. Waktu ayah masih hidup, paling sedikit saya bisamembagi perasaan dengan dia. Sekarang dia telah pergi dan saya tidak punya harapan dantiada guna hidup ini." Suara itu terdengar lagi, "Siapa yang memberi mata pada orang buta? Siapa yangmenyembuhkan orang sakit? Siapa yang menyembuhkan orang sakit kusta dan membangkitkanorang mati? Sayalah Yesus, anak Maria. Baca tentang Aku di dalam Qur'an mu, di SuraMaryam." Malam berikutnya, Gulshan meminta pelayannya memberinya bagianQur'an yang berisi Sura Maryam. Tetapi ia merasa kesusahan membacahuruf Arab dan tidak begitu mengerti apa yang tertulis. Lalu terlintas pikiranuntuk membaca Qur'an versi Urdu. Ini pikiran yang radikal buat Muslimsejati. Muslim percaya bahwa bahasa Arab adalah bahasa Surgawi danQur'an semestinya dimengerti melalui bahasa aslinya. Menerjemahkan Qur'an ke bahasa laindianggap dapat menghilangkan sebagian maknanya. Meskipun begitu, karena Gulshan berpikir bahwa Yesus bicara dengan dia dalam bahasa Urdu,Tuhan tentunya tidak keberatan dengan bahasa Urdu dan Qur'an versi Urdu semestinyaditerima juga olehNya. Pada waktu itu, Gulshan tidak pernah ingat pernah mendengar nama Yesus. Semestinya iapernah mendengar nama itu sewaktu belajar Qur'an, tapi tentunya waktu itu nama tersebut tidakada arti baginya. Tapi sekarang dengan membaca Sura Maryam untuk pertama kali dalamhidupnya dengan bahasanya sendiri ia bisa membaca Malaikat bicara pada Maryam Allah menganugerahkan FirmanNya bagimu. Namanya adalahMesiah Juru Selamat, Jesus anak Maryam. Dia akan dimuliakan di dunia dan di surga. Allahakan menyayangiNya. Dia akan berkhotbah untuk manusia dari tempat lahirnya ayunan bayidan pada waktu dewasa dia akan memimpin hidup yang benar… Selama tiga tahun Gulshan membaca bagian Qur'an tentang Yesus berulang-ulang, terutamapada malam hari setelah sembahyang terakhir di hari itu. Sekali dia tanya pada bibinya apakahdia tahu tentang Yesus. Bibinya dengan raut muka yang tidak suka bilang bahwa Yesus adalahnabi di Qur'an yang mencelikkan orang buta, menghidupkan orang mati, dan akan datang lagike dunia. Tidak banyak yang terjadi selama tiga tahun itu, tetapi Gulshan terus-menerus berdoa melaluiayat2 pendek itu. Ia mulai merasa punya harapan padahal sebelumnya ia putus asa samasekali. Dia jadi yakin jika ada yang menyembuhkan, pasti Dia itu Yesus! Tapi dia juga mulailelah menunggu dan mulai berdoa langsung pada Yesus. Gulshan menantangNya, jika Dia bisamenyembuhkan orang sakit kusta dan membangkitkan orang mati, apakah Dia akanmenyembuhkannya? Gulshan bahwa mulai menambah sembahyangnya dengan kalimat "OYesus anak Maryam, sembuhkanlah aku." Dia mengulang kata2 ini setiap kali sembahyang danbahkan juga sewaktu memegang satu persatu manik2 kalung doa yang dia beli dari Mekah. Suatu pagi, Gulshan bangun jam 3 pagi seperti biasa dan duduk di tempat tidurnya, siap untukmembaca, tapi diam2 dia mulai berdoa minta kesembuhan. Tiba2 dia berhenti pertanyaan timbul di kepalanya. Kenapa sampai sekarang dia belum jugadisembuhkan? Apakah dia tidak berdoa pada Yesus dan tidak cukup membaca Sura Maryam
Uploaded byH. Nugroho 0% found this document useful 0 votes5 views14 pagesDescriptionKerudung Yang Terkoyak - Bagian 7Copyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes5 views14 pagesKerudung Yang Terkoyak - Bagian 7Uploaded byH. Nugroho DescriptionKerudung Yang Terkoyak - Bagian 7Full descriptionJump to Page You are on page 1of 14Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 6 to 12 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Uploaded byH. Nugroho 0% found this document useful 0 votes1 views11 pagesDescriptionKerudung Yang Terkoyak - Bagian 6Copyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes1 views11 pagesKerudung Yang Terkoyak - Bagian 6Uploaded byH. Nugroho DescriptionKerudung Yang Terkoyak - Bagian 6Full descriptionJump to Page You are on page 1of 11Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 6 to 10 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
You're Reading a Free Preview Pages 7 to 14 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 18 to 21 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 25 to 35 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 39 to 41 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 48 to 55 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 59 to 74 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 78 to 83 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 87 to 89 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 93 to 96 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 104 to 111 are not shown in this preview.
buku kerudung yang terkoyak