Intinya anda harus update perkembangan mengenai Dana Hibah yang ada di internet. Nah, dibawah ini admin sampaikan beberapa tips atau cara mendapatkan dana hibah gratis dari luar negeri. Pastikan anda adalah organisasi Non Profit, Lembaga Amal atau LSM. Apabila perorangan, cari informasi dana hibah yang khusus perorangan. Caraselanjutnya untuk bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah dengan memilih universitas yang peminatnya sedikit. Cara ini bisa dikatakan cukup efektif untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Jika Anda mendaftar di tempat yang sedikit berbeda dari orang kebanyakan, Anda memiliki peluang lebih besar untuk diterima. 4 Persiapkan surat rekomendasi. Cara selanjutnya yang harus dilakukan agar kamu mendapatkan beasiswa S1 di luar negeri adalah mempersiapkan surat rekomendasi. Surat rekomendasi dinilai memegang peranan penting dalam proses beasiswa. Sebab, surat tersebut berisi bahwa kamu layak untuk mendapatkan beasiswa dari lembaga penyedianya. Selainbelajar dengan giat, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan beasiswa. Berikut 9 cara mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, dirangkum berbagai sumber pada Kamis (23/12). 1. Tingkatkan kemampuan bahasa Inggris atau bahasa asing. foto: freepik.com. 1 Nurut keinginan ortu dan percaya aja kalo bakalan ada hal baik yang mengikuti kita di Indonesia, atau.. 2. Mengekang keinginan ortu, mengikuti kata hati dan percaya bahwa akan ada hal baik yang kita kejar di luar sana. Orang tua Indonesia memang cenderung sangat konservatif dan hanya berpikiran negatifnya mulu. Tetapisecara lengkap, kamu dapat mengikuti 4 cara yang akan kami bagikan di bawah ini:beberapa cara mendapatkan teman luar negri yang bisa kita gunakan dibawah ini: Cara 1 : Cari Google Engine milik Google akan menampilkan banyak sekali informasi seputar kontak jika kita mengetik t.me pada kolom pencarian. HoPTs. Meminta Izin Orang Tua ke Luar Negeri Saya banyak menerima curhatan dari para pembaca, tentang sikap orang tua yang menentang habis-habisan keinginan mereka untuk hijrah ke luar negeri dan jadi au pair. Tidak ada yang salah dengan luar negerinya, yang dianggap salah adalah tujuan sebagai au pair. Tidak dipungkiri, au pair memang belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Belum lagi saat tahu kalau au pair tugasnya membersihkan rumah dan mengurus anak. Wah, posisi au pair betul-betul akan disamakan dengan pembantu. Meskipun sudah dua kali jadi au pair dan tiga tahun tinggal di luar negeri, saya juga tetap menghadapi kendala luar biasa, terutama soal restu orang tua. Karena ayah saya sudah tidak ada, jadi persoalan izin tentunya harus dibicarakan ke ibu. Jujur saja, ibu saya termasuk orang tua yang cukup konservatif dan tidak terlalu berharap saya hijrah ke luar negeri. Untuk sampai diizinkan ke luar negeri pun, saya sampai harus tangis-tangisan dan kena hinaan dulu. Hehe. Saat mengurus dokumen jadi au pair ke Belgia, ibu saya masih membantu membiayai urusan visa di Jakarta. Tapi saat akan ke Denmark, saya sengaja untuk tidak meminta bantuan sepeser pun karena jelas tahu tidak akan diperbolehkan. Jeleknya, saya ini anaknya keras kepala dan nekad. Niatnya dulu memang tetap akan pergi, meskipun tidak diizinkan yang ini jangan ditiru!. Bayangkan saja, tidak hanya ibu, keluarga besar saya dari pihak ibu ikut campurnya juga keterlaluan. Dari nenek, tante, sampai om, semuanya merendahkan keinginan saya ini. Beruntung sekali, masih ada beberapa keluarga dan teman yang tetap mendukung saya hijrah ke luar negeri. Kembali ke topik! Jadi sebenarnya, saya mengerti betul mengapa para keluarga Indonesia menentang habis-habisan niat kita menjadi au pair keluar negeri. Selain tidak ada statusnya, orang tua kadang mentah-mentah menelan makna au pair sebagai TKW. Padahal pengalaman jadi au pair is far from being a maid dan mereka tidak tahu saja enaknya jadi au pair. Beruntunglah kalian yang memiliki orang tua free-minded yang membebaskan si anak memilih sendiri jalan hidupnya. Sayangnya, banyak juga impian anak terhempas gara-gara terhadang restu orang tua. Lalu bagaimana meyakinkan orang tua agar diperbolehkan ke luar negeri barang satu sampai dua tahun? 1. Ganti kata-kata au pair dengan exchange culture Saya jarang sekali menggunakan kata-kata au pair untuk menjelaskan status saya di Eropa ke orang-orang di Indonesia. Mengapa? Karena dijelaskan sedetail mungkin pun percuma, mereka tidak akan mengerti. Boro-boro mengerti, yang ada malah kita direndahkan. Jadi, daripada repot-repot menjelaskan pengertian au pair ke orang-orang terdekat, baiknya mengganti kata-kata tersebut dengan ajang pertukaran budaya. Bukankah tujuan utama memang pertukaran budaya dengan keluarga angkat? 2. Tekankan kalau au pair ini sifatnya sponsorship Orang tua pasti akan bertanya-tanya bagaimana keuangan kita selama di luar negeri. Bukan apa, kadang ada juga orang tua yang melarang karena merasa tidak punya uang membiayai si anak. Jelaskan saja ke orang tua kalau au pair ini sebenarnya berbeda dari jenis pertukaran budaya yang diadakan banyak tempat kursus di Indonesia. Sebenarnya, kitalah yang harus membayar ke keluarga angkat kalau ingin tinggal di rumah mereka. Tapi, au pair sifatnya sponsorship, artinya kita tidak perlu membayar apapun lagi untuk tinggal, kecuali biaya visa dan tiket pesawat jika ada, karena semua sudah ditanggung. Lebih bagus lagi kalau dapat keluarga royal yang bersedia membiayai tiket pesawat hingga biaya kursus, artinya kita bisa menjelaskan kalau going overseas is almost free! 3. Au pair juga tujuannya belajar Satu hal yang kamu mesti tekankan ke orang tua, au pair tujuannya adalah belajar bahasa. Selain bertukar budaya, si au pair juga wajib mengikuti kursus bahasa setempat sebagai bagian dari exchange culture itu sendiri. Dengan begini, orang tua juga sedikit lega karena mendengar si anak akan menempuh pendidikan meskipun hanya sebatas short course. Jangan lupa sekalian beri tahu kalau kita bisa juga mendapatkan sertifikat selepas lulus ujian bahasa. Jadi status kita di luar negeri hampir bisa disamakan dengan para mahasiswa yang kuliah di sana. 4. Kamu boleh kerja part-time Jangan duluan menceritakan au pair itu sebenarnya pekerjaan yang mewajibkan kamu menjaga anak dan bersih-bersih rumah host family. That's totally wrong! Agar orang tua lega kamu bakalan baik-baik saja di negara orang, kita juga mesti menekankan kalau au pair ini sifatnya fleksibel. Jadi selain pertukaran budaya dan belajar bahasa, kita juga boleh mengambil kerja paruh waktu yang gajinya lumayan untuk uang jajan. Pekerjaan ini bisa dimulai dari merawat bayi, mengasuh anak, jadi guru bahasa, ataupun tukang masak keluarga. Tegaskan ke keluarga kalau pekerjaan ini hanya maksimal 5-6 jam, jadi tidak perlu khawatir akan disamakan dengan pembantu. 5. Jalan-jalan dan bersosialisasi Selain ke-4 penjelasan di atas, kamu juga boleh meyakinkan orang tua kalau au pair bisa jadi kesempatan kamu untuk berkeliling Eropa atau Australia dengan biaya yang super murah. Bayangkan kalau kamu menetap di Indonesia, meskipun harus menabung, entah beberapa tahun kemudian baru bisa kesana. Iya, kalau betul-betul kejadian. 6. Kesempatan melanjutkan pendidikan Banyak sekali, lho, mantan au pair yang meneruskan pendidikan mereka hingga S2 setelah masa au pair selesai. Cara ini bisa kamu manfaatkan juga untuk meyakinkan orang tua sekiranya mereka belum juga bisa percaya. Katakan saja kalau kamu memang punya mimpi sekolah keluar negeri sekaligus membanggakan mereka. Cari beasiswa, saingannya banyak. Jadi, siapa tahu selesainya au pair ini, kamu bisa mencari cara masuk ke kampus favorit dengan tabungan hasil au pair. Kampus di Belgia, Jerman, ataupun Prancis menawarkan uang kuliah yang cukup terjangkau bagi mahasiswa yang sekolah dengan mengambil kelas bahasa setempat. Sementara Norwegia, masih memberlakukan uang kuliah gratis bagi seluruh kewarganegaraan yang berniat sekolah disana. 7. Pengalaman dan motivasi Yakinlah, faktanya, banyak juga orang tua yang tetap keukeuh dengan jalan pikiran mereka sendiri dan melarang anaknya jadi au pair. Meskipun sudah dijelaskan sampai mulut berbusa sekali pun, banyak orang tua yang berusaha tutup telinga dan bersikeras menyuruh anaknya stay di Indonesia. Kalau sudah begini, kamu tetap harus berkepala dingin dan santai menghadapi mereka. Jangan saling lempar emosi hingga harus tangis-tangisan seperti saya dulu. Huhu. Walau bagaimana pun, komunikasi yang baik juga perlu. Orang tua juga bisa diyakinkan kalau au pair bisa dijadikan pengalaman yang HANYA akan didapatkan oleh anak-anak muda seumur kita. Jadi jangan takut kalau kita akan pergi jauh, karena toh hanya satu hingga dua tahun. Jelaskan juga kalau kita bisa berhemat, uang saku dari kerja paruh waktu sebagai au pair bisa ditabung dan dimanfaatkan untuk berinvestasi di Indonesia. Jumlahnya memang tidak banyak, namun setidaknya pola pikir dan mental kita bisa terbentuk jika tinggal mandiri di negara orang. Gaes, saya juga percaya restu Tuhan adalah restu orang tua. Tapi yakinlah dan ikuti kata hati, kita juga berhak mengejar mimpi dan cita-cita. Jangan sampai "tameng" restu orang tua menghadang impian kita meraih masa depan. Berdoa saja semoga hati orang tua dilembutkan dan semoga kesempatan jadi au pair adalah hal terbaik bagi kita. Umur 20-an dan punya mimpi tinggal atau kerja di luar negeri? Tapi, tabungan belum punya. Coba program beasiswa juga susah lolosnya. Ya nasib, tinggal dan kerja di luar negeri tetap cuma jadi mimpi. Tunggu, tunggu. Jangan dikubur dulu mimpinya. Masih ada program Au Pair. Eh, program apa? Program ini memungkinkanmu buat memiliki pengalaman tinggal, kuliah, dan kerja di luar negeri. Buat kamu yang belum tahu atau mau kenalan lebih dekat dengan program ini, yuk simak ulasannya berikut! Apa itu Au Pair? Secara sederhana Au Pair adalah program pertukaran budaya untuk tinggal selama setahun di luar negeri bersama keluarga angkat. Nantinya, kamu akan mendapatkan akomodasi gratis, uang saku, dan fasilitas lain sesuai dengan pernjanjian antara kamu dan keluarga angkat. Sebagai gantinya, kamu punya kewajiban di sana. Biasanya, kamu akan diminta membantu mereka mengurus anak atau melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga yang ringan. Ya, gak jauh beda lah sama di rumah, bantu-bantu orangtua terus dapat uang jajan, makan, dan tempat tinggal. Gak semua negara punya program Au Pair. Umumnya penyelenggara Au Pair adalah negara maju, seperti Australia, Jerman, Amerika, Prancis, Denmark, Spanyol, dan masih banyak lagi. Perlu diperhatikan, gak semua negara memperbolehkan pemegang paspor Indonesia jadi Au Pair di sana. Cara ikut atau jadi Au Pair Image aupairworld Persyaratannya Biasanya tiap negara punya persyaratannya masing-masing. Tapi, secara umum syarat untuk ikut program ini adalah sebagai berikut Perempuan atau laki-laki berusia 18-26 tahun Menguasai bahasa Inggris aktif Sehat jasmani dan rohani Menyukai anak-anak Jika syarat-syarat ini sudah terpenuhi, kamu bisa langsung daftar menjadi Au Pair di berbagai situs resminya, seperti aupair atau aupairworld. Di situs itulah kamu akan menemukan calon orangtua angkatmu. Cara daftarnya Bikin paspor jika belum punya Membuat CV atau profile semenarik mungkin Membuat surat keterangan sehat bisa di rumah sakit atau puskesmas Ujian bahasa negara tujuan misalnya bahasa Jerman untuk dapat sertifikat A1 Menulis surat untuk keluarga angkat berupa alasan mengapa kamu harus dipilih Menemukan calon orangtua angkat di website Au Pair Interview dan membuat kontrak bersama calon keluarga angkat. Cara di atas adalah langkah buat kamu yang jadi Au Pair lewat jalur mandiri. Jadi, melalui situs yang telah disebutkan di atas, kamu akan dikontak langsung oleh orangtua angkat. Nantinya, akan ada banyak tawaran orangtua angkat yang kamu terima, jadi kamu harus selektif memilih. Kamu juga bisa mendaftar Au Pair melalui agen. Bedanya jika melalui agen, keluarga angkat harus membayar jasa agen untuk mengurus kelengkapan dokumen. Sementara, jika mendaftar lewat situs non-agen, kelengkapan dokumen diurus sendiri oleh masing-masing pihak. Selain itu, sekalipun pakai agen, kelengkapan dokumen di Indonesia seperti mengurus visa, tetap kamu yang urus sendiri. Tips buat kamu yang tertarik ikut Au Pair 1. Pilih negara tujuan dan pahami regulasinya Image Vebma Kamu mungkin udah punya negara impian buat destinasi Au Pair. Tapi, perlu kamu pastikan dulu apakah negara tersebut terbuka buat pemegang paspor Indonesia atau gak. Selain itu, gak semua negara menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka. Jadi, perlu kamu cek lagi apakah kamu perlu kursus bahasa baru atau gak. Misalnya negara Jerman mewajibkan kamu mengantongi sertifikat bahasa Jerman minimal level dasar. Sementara di Australia, kamu cukup bermodalkan kemampuan bahasa Inggris aktif. 2. Kuasai bahasa dengan baik Image aupairlife Sebelum mendaftar, persiapkan kemampuan bahasa yang kamu punya. Terutama jika negara tujuanmu menggunakan bahasa selain Bahasa Inggris. Untuk itu, kamu bisa memilih negara yang bahasanya telah kamu kuasai atau negara yang bahasanya memang ingin kamu pelajari. Kemampuan bahasa sangat penting karena menjadi modalmu berkomunikasi. Meskipun gak diwajibkan, kamu sebaiknya juga memahami sedikit banyak bahasa ibu di negara tujuan. 3. Buat profilmu dengan jelas dan menarik Image infoaupair Layaknya mencari pekerjaan, CV atau profilmu akan menjadi impresi awal bagi calon keluarga angkat. Sebaiknya jelaskan tujuanmu dengan menarik. Misalnya, alih-alih menuliskan tujuan sekadar jalan-jalan ke luar negeri, kamu bisa menjelaskan keinginanmu mempelajari budaya di negara tersebut. Umumnya, pekerjaan Au Pair berkaitan dengan anak-anak mengasuh atau menjaga anak-anak keluarga angkat. Oleh sebab itu, jika punya pengalaman yang berkaitan dengan anak-anak, hal tersebut bisa jadi nilai tambah. Jadi, jangan lupa dituliskan juga pada profile-mu. Misalnya pernah menjadi guru TK atau relawan pengajar anak. Keuntungan jadi Au Pair Selain benefit yang telah disebutkan di atas, kamu bisa mendapat bonus fasilitas lainnya. Contohnya, ada beberapa negara yang mewajibkan calon keluarga angkat untuk membiayai tiket pesawat secara penuh, seperti Denmark, Norwegia, dan Belanda. Beberapa keluarga angkat juga memberikan biaya kursus bahasa dan ongkos jalan-jalan di sana. Lumayan kan? Gak cuma kerja di luar negeri, kamu juga bisa melanjutkan pendidikan di negara Au Pair. Caranya bisa dengan jalur beasiswa atau mencari sponsor. Gak sedikit juga peserta au pair yang berhasil “merayu” keluarga angkat mereka untuk menjadi sponsor sebagai syarat administrasi kuliah. Gimana, tertarik mencoba program ini? Selamat mencoba ya! Upaya untuk mendapatkan persetujuan dari orang tua terkadang sulit, terutama bagi mahasiswa generasi pertama, atau orang yang berasal dari keluarga yang tidak bepergian sendiri. Kebanyakan orang tua cukup khawatir ketika anak-anak mereka pergi ke perguruan tinggi - ketakutan itu hanya diperkuat ketika kamu ingin meninggalkan rumah selama satu atau empat tahun untuk kuliah di luar negeri. Tekanan mereka berkisar dari semua hal kecil yang sekarang harus kamu lakukan sendiri, terlalu banyak kekhawatiran yang lebih besar seputar keselamatan kamu. Jadi, bagaimana kamu mencapai kesepakatan dengan orang tua dan meyakinkan mereka bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk kamu? Berikut beberapa tips untuk membuat orang tua kamu lebih yakin akan keputusanmu untuk kuliah ke luar negeri 1. Persiapkan dengan matang Pertama dan terpenting, kamu perlu meyakinkan orang tua bahwa kamu melakukan seluruh petualangan dengan sangat serius dan kamu memiliki apa yang diperlukan untuk belajar di luar negeri Mendapatkan nilai bagus di sekolah, memulai belajar bahasa di kelas atau online, mungkin memasak sesuatu dari negara tersebut atau membaca buku dan menonton film. Orang tua kamu perlu melihat bahwa kamu sangat tertarik pada bahasa dan budayanya dan bahwa kamu bersedia dan mampu untuk berusaha. Seringkali, argumen ini lebih meyakinkan jika kamu memilih universitas yang diperingkat dalam peringkat pendidikan global seperti Times Higher Education Rankings dan Academic Ranking of World Universities. Beberapa contoh universitas ternama yang dapat kamu pertimbangkan untuk disebutkan adalah 1. University of Oxford Inggris 2. Stanford University AS 3. Harvard University AS 4. California Institute of Technology AS 5. Massachusetts Institute of Technology AS 6. University of Cambridge Inggris 7. University of California Berkeley AS 8. Yale University AS 9. Princeton University AS 10. University of Chicago AS Baca lengkapnya PERINGKAT UNIVERSITAS TERBAIK DI DUNIA TAHUN 2021 VERSI TIMES HIGHER EDUCATION 2. Yakinkan Orang Tua kamu tentang Keamanan kamu Keamanan kamu adalah yang paling penting bagi orang tua dan orang yang kamu cintai. Faktanya, ini mungkin hal yang paling mereka khawatirkan ketika kamu pergi ke belahan dunia lain tanpa mereka. Untungnya, ada banyak sekali penyedia program pendidikan internasional di luar sana yang memiliki staf lokal yang tugasnya siap membantu kamu 24/7. Dengan memilih pergi ke luar negeri dengan suatu program, daripada sendirian, orang tua kamu akan merasa nyaman mengetahui bahwa orang-orang ada di sana untuk memeriksa kamu jika terjadi keadaan darurat. 3. Tunjukkan pada Orang Tua kamu bahwa Belajar di Luar Negeri Bisa Hemat Biaya Pergi ke luar negeri cukup mahal, tetapi jika kamu melakukan riset, kamu dapat menemukan cara untuk menghemat banyak uang. Belajar di luar negeri sering kali dikaitkan dengan biaya tambahan. Meskipun kamu menemukan universitas dengan biaya kuliah gratis atau mendapatkan beasiswa, kamu mungkin memerlukan uang tambahan, dan itu adalah salah satu hal pertama yang akan dipikirkan orang tua setelah kamu memberi tahu mereka tentang rencana kamu. Oleh karena itu, kamu harus dapat membuktikan bahwa kamu bertanggung jawab dan paham secara finansial. Pastikan untuk mempersiapkan dengan menabung agar orang tuamu tidak perlu khawatir. kamu dapat mencari pekerjaan paruh waktu dan mengurus keuangan kamu sebelumnya. Baca lengkapnya KUMPULAN ARTIKEL TENTANG BEASISWA KULIAH DI LUAR NEGERI 4. Yakinkan Orang Tua kamu Belajar di Luar Negeri adalah Investasi dalam Pendidikan kamu Ketika orang tua memikirkan hal-hal yang ingin mereka berikan kepada kamu, hal tersebut tidak akan jauh dari tempat tinggal, makanan, dan pendidikan yang aman. Meskipun kuliah di luar nengeri itu menyenangkan dan mengubah hidup, orang tua mungkin tidak melihatnya sebagai kebutuhan. Ketika berbicara dengan orang tua kamu, fokus pada aspek pengalaman pendidikan, dan bagaimana itu merupakan investasi untuk masa depan kamu. Dengan belajar di luar negeri di negara yang sangat berbeda dari negara kamu, kamu akan memiliki karir lebih baik nantinya. Kamu dapat memperoleh keterampilan bahasa baru, memahami seluk beluk budaya lain, dan akan menjadi lebih berpikiran global. Jelaskan kepada orang tua kamu bahwa keterampilan ini akan berdampak positif bagi kamu di tahun-tahun mendatang, dan kemungkinan besar akan membantu kamu menemukan pekerjaan lebih mudah setelah universitas. 5. Tawarkan untuk Menghubungkan Orang Tua kamu dengan Universitasmu Orang tua kamu mungkin merasa lebih nyaman jika mereka memiliki kesempatan untuk berbicara dengan orang dewasa lainnya. Bukan karena mereka tidak mempercayai kamu, atau tidak menghargai hal-hal yang kamu katakan kepada mereka. Sebaliknya, mereka mungkin hanya ingin mendengar lebih banyak tentang aspek keselamatan, serta alasan untuk berinvestasi agar kamu dapat belajar di luar negeri dari seseorang yang bekerja di industri tersebut. Penasihat studi kamu di luar negeri ada untuk kamu dan keluarga kamu, jadi jangan ragu untuk menghubungkan mereka dengan orang tua kamu jika itu akan membuat mereka merasa lebih baik. 6. Hubungi Alumni untuk Menunjukkan Pada Orang Tua kamu Seperti Apa Rasanya Selain berbicara dengan seseorang dari kantor studi di luar negeri, orang tua kamu mungkin memiliki pertanyaan untuk seseorang yang benar-benar telah mengalami perjalanan yang ingin kamu tempuh. Banyak penyedia program memiliki duta alumni untuk terhubung dengan peserta program yang tertarik dan keluarganya. Konsultasikan dengan kantor studi kamu di luar negeri untuk rincian kontak dari alumni di sekolah kamu. 7. Libatkan mereka dan berjanji untuk tetap berhubungan Bahkan jika orang tua selalu mengatakan bahwa mereka ingin kamu menjadi lebih bertanggung jawab, mereka juga takut bahwa kemandirian kamu akan membuat mereka tidak lagi dianggap. Itulah mengapa kamu harus mengarahkan hati mereka. Setelah mempresentasikan semua info dan argumen belajar di luar negeri, beri tahu mereka bahwa kamu menghargai pendapat mereka dan bahwa mereka dapat membantu kamu membuat keputusan akhir. Juga, bicarakan tentang banyak cara untuk tetap berhubungan dengan mereka jejaring sosial, aplikasi perpesanan, sering berkunjung, atau membiarkan mereka mengunjungi kamu. 8. Ingatkan Orang Tua kamu Ini adalah Impian kamu Jika kamu telah mengerjakan riset dan pekerjaan rumahmu, orang tua kamu akan dengan mudah melihat seberapa banyak pekerjaan yang kamu lakukan untuk mengumpulkan semua informasi ini untuk disajikan kepada mereka. Upaya kamu akan membuktikan kepada mereka bahwa kamu adalah individu dewasa yang mampu belajar di luar negeri di belahan dunia lain. Baca juga 5 UNIVERSITAS KANADA DENGAN PROGRAM MBA TERBAIK DI DUNIA NEGARA TUJUAN TERBAIK UNTUK KULIAH HUKUM DAFTAR UNIVERSITAS INGGRIS TERBAIK VERSI THE GUARDIAN Mentoring Beasiswa Online – Jika kuliah ke luar negeri adalah salah satu goal jangka pendekmu, maka akan lebih baik jika dipersiapkan sedini mungkin. Banyak hal yang mungkin sudah dipersiapkan entah dari jurusan kuliah, negara, biaya kuliah, biaya hidup, belajar bahasa, atau bahkan mencari info beasiswa. Eits, tapi jangan sampai dari banyak hal tersebut, justru kamu melupakan satu hal yang sangat penting yaitu mendapatkan restu orang tua. Bagaimanapun, restu orang tua adalah restu Tuhan. Semua orang yang sukses tak luput dari orang-orang yang mendoakannya. Sudahkah kamu mendapatkannya? Jika belum dan masih bingung bagaimana cara meyakinkan kedua orang tua agar mengijinkan kita kuliah di luar negeri, baca artikel ini sampai selesai ya! Baca juga Panduan Beasiswa MancanegaraKuliah di Korea Selatan? Daftar Beasiswa KGSP Aja!Kuliah S1 Gratis di Inggris? Daftar Beasiswa Jardine 2022 Aja!Beasiswa S-1 di Hong Kong Baptist University, Yuk Daftar!Mahasiswa Seni, Saatnya Kuliah di Korea Selatan dengan K’ARTS Korea 2021Beasiswa GIST Scholarship untuk kuliah S2 S3 di Korea Selatan Susun Rencana Hidup Secara Jelas Meraih impian berkuliah di luar negeri tentu membutuhkan effort yang tidak mudah, sehingga memiliki tujuan yang jelas menjadi hal yang sangat krusial. Jangan sampai tujuannya tidak jelas seperti karena gengsi, ikut-ikutan saja, atau cuma pengen aja. Hmmm, hampir dipastikan SIM Surat Ijin Merantau dari orang tua nggak bakalan keluar. Tips pertama yang bisa kamu lakukan adalah coba susun secara rinci alasan dan tujuan kuliah di luar negeri itu apa saja. Seberapa besar urgensinya sehingga tujuan kuliah di luar negeri menjadi sebuah mimpi yang kuat. Sampaikan Secara Perlahan Kepada Orang Tua Setelah motivasi dan tujuan sudah jelas, coba dekati mereka dan bicarakan hal tersebut secara berkala. Maksudnya, jangan dadakan atau egois, misalnya, “Pokoknya maunya lanjut studi di luar negeri. Titik.” Hindari bersikap seperti itu, saat menyampaikan, lebih baik posisikan diri kamu dari sudut pandang mereka. Agar orang tuamu pun bisa berpikiran yang sama dengan apa yang kamu ungkapkan. Memberi Gambaran Prospek Kerja yang Bagus Jika ingin kuliah di luar negeri, kamu tidak cukup mengatakan bahwa, misalnya “Aku ingin jadi ahli matematika saja”. Kamu juga harus jelaskan bagaimana potensi profesi yang kamu inginkan tersebut di masa depan, seberapa luas lapangan pekerjaan yang tersedia nantinya jika kamu menjadi lulusan di bidang tersebut, dan jelaskan pula keunggulan kampus yang kamu inginkan dibandingkan kampus yang ada di dalam negeri. Misalnya, meskipun Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sudah memiliki tempat tersendiri di Indonesia, tapi karena kamu ingin beberapa langkah berada di depan, kamu ingin kuliah di Amerika Serikat. Alasannya, karena Amerika punya kurikulum STEM Science, Technology, Engineering, and Math yang bisa jadi acuan standar pembelajaran MIPA terkeren sedunia. Lalu, coba pikirkan lagi, apa sih tujuan kamu kuliah sampai ke luar negeri? Apakah karena prospek kerja yang cemerlang? Kalau iya, inilah saatnya menyampaikannya kepada orang tua. Tidak hanya prospek kerja namun kesempatan mengembangkan karier yang lebih luas, bukan tidak mungkin kamu akan mendapatkan tawaran pekerjaan bergengsi di luar negeri bukan? Tapi tetap saja, memberi janji yang muluk-muluk juga diikuti dengan usaha keras agar tidak mengecewakan mereka. Menunjukkan Sikap Bahwa Kamu Bertanggung Jawab Tips meyakinkan orang tua selanjutnya adalah menunjukkan bahwa kamu bisa dipercaya dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Tunjukkan bahwa kamu tidak akan mudah terpengaruh dengan pergaulan bebas yang ada di luar negeri. Yakinkan pada orang tua bahwa kamu pergi merantau hanya ingin fokus mengenyam pendidikan. Jika kamu bisa menunjukkan sikap demikian, maka orang tua akan berusaha yakin dan menyetujui kemauanmu. Tak hanya itu saja, kamu juga harus tunjukkan bahwa kamu bisa bertanggung jawab mengurus dirimu sendiri selama di sana. Yakinkan orang tua bahwa kamu memang bisa dipercaya dalam segala hal. Mengubah image buruk yang dimiliki selama ini juga penting seperti sikap bergantung pada orang lain yang terlalu berlebihan, plin-plan, dan manja. Meminta Bantuan Teman yang Dipercaya Orang Tua untuk Membantu Meyakinkan Bisanya dengan adanya second opinion, maka orang tua akan lebih bisa mempertimbangkan keinginanmu. Hal ini sebenarnya tak hanya mencakup urusan keinginan untuk kuliah di luar negeri saja tetapi juga mencakup hal-hal lainnya. Jika kamu memiliki teman atau kerabat yang opininya selalu dipercaya oleh orang tua, maka tak ada salahnya meminta bantuan kepada mereka untuk membujuk orang tuamu. Jika pilihan untuk kuliah di luar negeri dinilai tidak masuk akal oleh orang tuamu, opini dari kerabat atau temanmu akan membuat mereka berpikir bahwa pilihanmu sebenarnya tidak seburuk itu. Mulai Tunjukkan Persiapan yang Sudah Kamu Lakukan Sejauh ini apa saja yang sudah kamu persiapkan, apakah kamu sudah begitu gigih mencari info beasiswa, mencari tau estimasi biaya hidup, dan giat belajar? Kalau belum, segera lakukan Pastikan dulu kemampuan bahasa Inggris kamu sudah mumpuni, kalau belum, jangan khawatir karena kamu bisa belajar bahasa Inggris secara online di Program Kursus Bahasa Mulailah dengan meningkatkan kemampuan percakapan bahasa Inggris di Kursus Speaking Lalu, perdalam lagi persiapan kamu untuk tes IELTS secara online di sini Kursus Ielts Online. Semakin baik persiapan yang kamu lakukan, semakin besar peluang restu orang tua kamu dapatkan. Apalagi setelah kamu mengikuti kursus persiapan kuliah di luar negeri di University Preparation English Course. Beri Waktu untuk Orang Tua Berpikir Setelah kamu menyampaikan keinginanmu untuk kuliah di luar negeri, kamu tidak bisa langsung meminta jawaban secara terburu-buru. Jangan pernah memaksa mereka buat langsung atau segera kasih jawaban karena jika demikian kamu malah tidak akan pernah diberikan izin. Kamu harus memberikan waktu kepada orang tua untuk berpikir, misalnya menunggu beberapa jam atau beberapa hari supaya mereka bisa berpikir dengan tenang dan akhirnya memberikan keputusan. Sampaikan juga bahwa kamu siap jika mereka masih punya pertanyaan atau hal-hal lain yang ingin disampaikan di lain hari supaya bisa menambah pertimbangan mereka. Jika kamu terlalu memaksa orang tua dalam memutuskan hal penting seperti ini secara tergesa-gesa, kemungkinan kecil kamu akan diberikan izin untuk kuliah di luar negeri. Namun, jika kamu bisa belajar bersabar dan menunggu tak menuntut kemungkinan bahwa kamu akan diperbolehkan untuk kuliah di luar negeri. Oleh karena itu, berikanlah waktu untuk orang tuamu berpikir. Meskipun jangka waktunya mungkin cukup lama, namun optimislah bahwa kamu akan mendapatkan jawaban seperti apa yang kamu inginkan selama ini. Semangat!

cara mendapatkan orang tua angkat di luar negeri